Keberadaan
Agama Hindu di Bali
Berakhirnya zaman prasejarah di
Indonesia ditandai dengan datangnya bangsa dan pengaruh Hindu. Pada abad-abad pertama Masehi sampai
dengan lebih kurang tahun 1500, yakni dengan lenyapnya kerajaan Majapahit merupakan masa-masa pengaruh
Hindu. Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari India itu berakhirlah zaman
prasejarah Indonesia karena didapatkannya keterangan tertulis yang memasukkan
bangsa Indonesia ke dalam zaman sejarah. Berdasarkan keterangan-keterangan yang
ditemukan pada prasasti abad ke-8 Masehi dapatlah dikatakan bahwa periode sejarah
Bali Kuno meliputi kurun waktu antara abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14
Masehi dengan datangnya ekspedisi Mahapatih Gajah Mada dari
Majapahit yang dapat mengalahkan Bali. Nama Balidwipa tidaklah merupakan nama
baru, namun telah ada sejak zaman dahulu. Hal ini dapat diketahui dari beberapa
prasasti, di antaranya dari Prasasti Blanjong yang
dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 913 Masehi yang menyebutkan kata
"Walidwipa". Demikian pula dari prasasti-prasasti Raja Jayapangus, seperti prasasti Buwahan D dan
prasasti Cempaga A yang berangka tahun 1181 Masehi.
Di antara raja-raja Bali, yang banyak
meninggalkan keterangan tertulis yang juga menyinggung gambaran tentang susunan
pemerintahan pada masa itu adalah Udayana,
Jayapangus , Jayasakti, dan Anak Wungsu. Dalam mengendalikan pemerintahan,
raja dibantu oleh suatu Badan Penasihat Pusat. Dalam prasasti tertua 882-914, badan ini disebut dengan istilah
"panglapuan". Sejak zaman Udayana, Badan Penasihat Pusat disebut
dengan istilah "pakiran-kiran i jro
makabaihan". Badan ini beranggotakan beberapa orang senapati dan
pendeta Siwa dan Budha.
Di dalam prasasti-prasasti sebelum
Raja Anak Wungsu disebut-sebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu.
Akan tetapi, baru pada zaman Raja Anak Wungsu, kita dapat membedakan jenis seni
menjadi dua kelompok yang besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat. Tentu saja
istilah seni keraton ini tidak berarti bahwa seni itu tertutup sama sekali bagi
rakyat. Kadang-kadang seni ini dipertunjukkan kepada masyarakat di desa-desa
atau dengan kata lain seni keraton ini bukanlah monopoli raja-raja.
Dalam bidang agama, pengaruh zaman
prasejarah, terutama dari zaman megalitikum masih terasa kuat. Kepercayaan pada
zaman itu dititikberatkan kepada pemujaan roh nenek moyang yang disimboliskan
dalam wujud bangunan pemujaan yang disebut teras piramid atau bangunan
berundak-undak. Kadang-kadang di atas bangunan ditempatkan menhir, yaitu tiang
batu monolit sebagai simbol roh nenek moyang mereka. Pada zaman Hindu hal ini
terlihat pada bangunan pura yang mirip dengan pundan berundak-undak. Kepercayaan
pada dewa-dewa gunung, laut, dan lainnya yang berasal dari zaman sebelum
masuknya Hindu tetap tercermin dalam kehidupan masyarakat pada zaman setelah
masuknya agama Hindu. Pada masa permulaan hingga masa pemerintahan Raja Sri Wijaya
Mahadewi tidak
diketahui dengan pasti agama yang dianut pada masa itu. Hanya dapat diketahui
dari nama-nama biksu yang memakai unsur nama Siwa, sebagai contoh biksu Piwakangsita
Siwa, biksu Siwanirmala, dan biksu Siwaprajna. Berdasarkan hal ini, kemungkinan
agama yang berkembang pada saat itu adalah agama Siwa. Baru pada masa
pemerintahan Raja Udayana dan permaisurinya, ada dua aliran agama besar yang
dipeluk oleh penduduk, yaitu agama Siwa dan agama Budha. Keterangan ini
diperoleh dari prasasti-prasastinya yang menyebutkan adanya mpungku
Sewasogata (Siwa-Buddha) sebagai
pembantu raja.
Raja
raja yang pernah memerintah di Bali sebelum pengaruh Kerajaan Majapahit
1. Sri Kesari Warmadewa
1. Sri Kesari Warmadewa
Berdasarkan
Prasasti Blanjong yang berangka tahun 914. Istananya berada di Singhadwalawa
2. Ratu Sri Ugrasena
2. Ratu Sri Ugrasena
Raja
berikutnya adalah Sang Ratu Sri Ugrasena. Ia memerintah tahun 915–942,
istananya berada di Singhamandawa. Sang Ratu Sri Ugrasena meninggalkan sembilan
prasasti. Pada umumnya, prasasti itu berisi tentang pembebasan pajak pada
daerah-daerah tertentu. Selain itu, ada juga prasasti yang memberitakan tentang
pembangunan tempat-tempat suci. Setelah wafat, Sang Ratu Sri Ugrasena
didharmakan di Air Mandatu.
3. Tabanendra Warmadewa
Raja
ini yang memerintah tahun 955–967 M.
4. Jayasingha Warmadewa
Ada
yang menduga bahwa Jayasingha Warmadewa bukan keturunan Tabanendra karena pada
tahun 960 M (bersamaan dengan pemerintahaan Tabanendra) Jayasingha Warmadewa
sudah menjadi raja. Akan tetapi, mungkin juga ia adalah putra mahkota yang
telah diangkat menjadi raja sebelum ayahnya turun takhta. Raja Jayasingha telah
membuat telaga (pemandian) dari sumber suci di Desa Manukraya. Pemandian itu
disebut Tirta Empul yang terletak di dekat Tampaksiring. Raja Jayasingha
Warmadewa memerintah sampai tahun 975 Masehi.
5. Jayashadu Warmadewa
5. Jayashadu Warmadewa
Janasadhu Warmadewa. Ia memerintah tahun 975–983.
6. Sri Wijaya Mahadewi
6. Sri Wijaya Mahadewi
Pada tahun 983 M muncul seorang raja wanita,
yaitu Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Menurut Stein Callenfels, ratu itu
berasal dari Kerajaan Sriwijaya. Namun, Damais menduga bahwa ratu itu adalah
putri Empu Sindok (Jawa Timur). Hal ini didasarkan atas nama-nama jabatan dalam
Prasasti Ratu Wijaya sendiri yang sudah lazim disebut dalam prasasti di Jawa,
tetapi tidak dikenal di Bali, seperti makudur, madihati, dan pangkaja.
7. Dharma Udayana Warmadewa
7. Dharma Udayana Warmadewa
Peda pemerintahan Udayana, kerajaan Bali
mengalami kejayaan. Ia memerintah bersama permaisurinya, yaitu Mahendradatta,
anak dari Raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur. Sebelum naik takhta
diperkirakan Udayana berada di Jawa Timur sebab namanya tercantum dalam
Prasasti Jalatunda. Setelah pernikahan itu, pengaruh kebudayaan Jawa di Bali
makin berkembang. Misalnya, bahasa Jawa Kuno mulai digunakan untuk penulisan
prasasti dan pembentuk dewan penasihat seperti di pemerintahan kerajaankerajaan
Jawa mulai dilakukan. Udayana memerintah bersama permaisurinya hingga tahun
1001 M karena pada tahun itu Gunapriya mangkat dan didharmakan di Burwan.
Udayana meneruskan pemerintahannya hingga tahun 1011 M. Setelah mangkat, ia
dicandikan di Banuwka. Hal ini didasarkan pada Prasasti Air Hwang (1011) yang
hanya menyebut nama Udayana sendiri. Menurut Prasasti Ujung (Hyang), Udayana
setelah mangkat dikenal sebagai Batara Lumah di Banuwka. Raja Udayana mempunyai
tiga orang putra, yaitu Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Airlangga tidak
pernah memerintah di Bali karena menjadi menantu Dharmawangsa di Jawa Timur.
8. Maraka
Marakata bergelar Dharmawangsawardhana
Marakata Pangkajasthana Uttunggadewa. Marakata memerintah dari tahun 1011
hingga 1022. Masa pemerintahan Marakata sezaman dengan Airlangga. Karena
persamaan unsur nama dan masa pemerintahannya, Stutterheim berpendapat bahwa
Marakata sebenarnya adalah Airlangga. Apalagi jika dilihat dari kepribadian dan
cara memimpin yang memiliki kesamaan. Marakata dipandang sebagai sumber
kebenaran hukum yang selalu melindungi dan memperhatikan rakyat. Oleh karena
itu, Marakata disegani dan ditaati oleh rakyatnya. Selain itu, Marakata juga
turut membangun sebuah presada atau candi di Gunung Kawi di daerah
Tampaksiring, Bali.
9. Anak Wungsu
Ia bergelar Paduka Haji Anak Wungsu Nira
Kalih Bhatari Lumah i Burwan Bhatara Lumah i Banu Wka. Anak Wungsu adalah Raja
Bali Kuno yang paling banyak meninggalkan prasasti (lebih dari 28 prasasti)
yang tersebar di Bali Utara, Bali Tengah, dan Bali Selatan. Anak Wungsu
memerintah selama 28 tahun dari tahun 1049–1077. Anak Wungsu dianggap sebagai
penjelmaan Dewa Wisnu. Anak Wungsu tidak memiliki keturunan. Baginda mangkat
pada tahun 1077 dan dimakamkan di Gunung Kawi (dekat Tampaksiring)
10 Jaya
Sakti
Jayasakti memerintah dari tahun 1133–1150 M
dan sezaman dengan pemerintahan Jayabaya di Kediri. Dalam menjalankan
pemerintahannya, Jayasakti dibantu oleh penasihat pusat yang terdiri atas para
senapati dan pimpinan keagamaan baik dari Hindu maupun Buddha. Kitab
undang-undang yang digunakan adalah kitab Utara Widdhi Balawan dan kitab
Rajawacana.
11. Bedahulu
Memerintah tahun 1343 M adalah Sri Astasura
Ratna Bhumi Banten. Raja Bedahulu dibantu oleh kedua patihnya, Kebo Iwa dan
Pasunggrigis. Ia adalah raja terakhir karena pada masa pemerintahannya Bali
ditaklukkan oleh Gajah Mada dan menjadi wilayah taklukan Kerajaan Majapahit.
3. Masuknya
pengaruh Majapahit di Bali
Ekspedisi Gajah Mada ke Bali
dilakukan pada saat Bali diperintah oleh Kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa. Dengan terlebih dahulu membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada
memimpin ekspedisi bersama Panglima Arya Damar dengan dibantu oleh beberapa orang arya. Penyerangan ini
mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan Kerajaan
Bedahulu. Pertempuran ini mengakibatkan raja Bedahulu dan putranya wafat.
Setelah Pasung Grigis menyerah, terjadi
kekosongan pemerintahan di Bali. Untuk itu, Majapahit menunjuk Sri
Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan
bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga.
Dari sinilah berawal wangsa
Kepakisan.
4. Kerajaan
di Bali setelah pengaruh Majapahit
Gelgel
Gelgel
1)
DALEM KETUT NGULESIR ( 1320 - 1400 ) M
Merupakan raja pertama dari periode Gelgel
yang berkuasa selama lebih kurang 20 tahun (tahun 1320-1400). Ada beberapa yang
dapat diamati selama masa pemerintahan raja Gelgel pertama, raja dikatakan
berparas sangat tampan ibarat Sanghyang Semara, serta memerintah dengan
bijaksana dan selalu berpegang pada Asta Brata. Dalem Ketut Ngulesir adalah
seorang raja yang adil, suka memberi penghargaan kepada orang yang berbuat
baik, serta tidak segan-segan menghukum mereka yang berbuat salah. Baginda
menganugrahkan suatu predikat tanda penghargaan wangsa "Sanghyang"
dengan sebutan "Sang" kepada masyarakat desa Pandak, di mana mereka
bermukim dahulu.
Pada masa pemerintahan prabhu Hayam Wuruk
yang mengadakan upacara Cradha dan rapat besar, dihadiri pula oleh Dalem Ktut
Ngulesir beserta semua raja-raja di kawasan Nusantara. Kehadiran dengan tata
kebesaran itu menimbulkan kekaguman para raja yang lain serta masyarakat yang
menyaksikan. Beliau disertai oleh Patih Agung, Arya Patandakan, dan Kyai
Klapodyana (Gusti Kubon Tubuh).
2)
DALEM BATUR ENGGONG ( 1460 )
Dalem Batur Enggong memerintah mulai tahun
1460 M dengan gelar Dalem Batur Enggong Kresna Kepakisan, dalam keadaan negara
yang stabil. Hal ini telah ditanamkan oleh almarhum Dalem Ktut Ngulesir, para
mentri dan pejabat-pejabat lainnya demi untuk kepentingan kerajaan. Dalem dapat
mengembangkan kemajuan kerajaan dengan pesat, dalam bidang pemerintahan, sosial
politik, kebudayaan, hingga mencapai zaman keemasannya. Jatuhnya Majapahit
tahun 1520 M tidak membawa pengaruh negatif pada perkembangan Gelgel, bahkan
sebaliknya sebagai suatu spirit untuk lebih maju sebagai kerajaan yang merdeka
dan berdaulat utuh. Beliau adalah satu-satunya raja terbesar dari dinasti
Kepakisan yang berkuasa di Bali, yang mempunyai sifat-sifat adil, bijaksana.
3)
DALEM BEKUNG
Setelah wafatnya Dalem Watur Enggong, maka
menurut tradisi yang berlaku, baginda digantikan oleh putra sulungnya yaitu I
Dewa Pemayun, yang selanjutnya disebut Dalem Bekung. Karena umurnya belum
dewasa, maka pemerintahannya dibantu oleh para paman dan Patih Agung. Para
paman yang membantu adalah : I Dewa Gedong Artha, I Dewa Nusa, I Dewa
Pagedangan, I Dewa Anggungan dan I Dewa Bangli. Kelima orang itu adalah putra I
Dewa Tegal Besung saudara sepupu Dalem Waturenggong.
4)
DALEM SAGENING
Dalem Sagening dinobatkan menjadi raja pada
tahun 1580 M. Menggantikan Dalem Bekung dalam suasana yang amat menyedihkan,
dan Dalem Sagening seorang raja yang amat bijaksana, cerdas, berani, berwibawa sehingga
dalam waktu yang singkat keamanan kerajaan Gelgel pulih kembali. Sebagai Patih
Agung adalah Kryan Agung Widia putra pangeran Manginte, sedangkan adiknya Kryan
Di Ler Prenawa diberikan kedudukan Demung. Dalem Sagening menetapkan
putra-putra baginda di daerah-daerah tertentu, dengan jabatan sebagai anglurah
antara lain :
a. I Dewa Anom Pemahyun,
ditempatkan di desa Sidemen (Singarsa) dengan jabatan Anglurah pada tahun 1541
M, dengan patih I Gusti Ngurah Sidemen Dimade dengan batas wilayah di sebelah
timur sungai Unda sampai sungai Gangga, dan batas wilayah di sebelah utara
sampai dengan Ponjok Batu.
b. I Dewa Manggis Kuning,( I
Dewa Anom Manggis) ber ibu seorang ksatria dari Manggis, atas permohonan I
Gusti Tegeh Kori dijadikan penguasa di daerah Badung. Namun karena sesuatu
peristiwa beliau terpaksa meninggalkan daerah Badung, pindah ke daerah Gianyar.
c. Kyai Barak Panji, beribu
dari Ni Pasek Panji, atas perintah Dalem di tempatkan di Den Bukit sebagai
penguasa di daerah itu, dibantu oleh keturunan Kyai Ularan. Dia sebagai pendiri
kerajaan Buleleng yang kemudian bernama I Gusti Panji Sakti.
d. Dalem Anom Pemahyun.
Setelah Dalem Sagening wafat pada tahun 1665, maka I Dewa Anom Pemahyun
dinobatkan menjadi Raja dengan gelar Dalem Anom Pemahyun. Dalam menata
pemerintahan Dalem belajar dari sejarah dan pengalaman. Karena itu secara
progresif dia mengadakan pergantian para pejabat yang kurang diyakini ketulusan
pengabdiannya.
e. Dalem Dimade. Setelah Dalem
Anom Pemahyun meninggalkan istana Gelgel, maka I Dewa Dimade dinobatkan menjadi
susuhunan kerajaan Bali dengan gelar Dalem Dimade 1665-1686, seorang raja yang
sabar, bijaksana dalam mengemban tugas, cakap memikat hati rakyat. Patih Agung
adalah Kyai Agung Dimade (Kryan Agung Maruti) berkemauan keras dan bercita-cita
tinggi. Kyai Agung Dimade adalah anak angkat I Gusti Agung Kedung. Sebagai
demung diangkat Kryan Kaler Pacekan dan Tumenggung adalah Kryan Bebelod.
5)
KRYAN AGUNG MARUTI
Kebesaran kerajaan Gelgel yang pernah dicapai
kini hanya tinggal kenang-kenangan di dalam sejarah. Setelah Dalem Dimade
meninggalkan istana Gelgel tahun 1686 M maka kekuasaan di pegang oleh Kryan
Agung Maruti sebagai raja Gelgel. Namun Bali tidak lagi merupakan kesatuan di
bawah kekuasaan Gelgel, malainkan Bali mengalami perpecahan di antara para
pemimpin, kemudian mucul kerajaan-kerajaan kecil yang berdaulat, sehingga
daerah kekuasaan Kryan Maruti tidak seluas daerah kekuasaan kerajaan Gelgel
yang dahulu.
b Kerajaan
Klungkung
Kerajaan
Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti
Gelgel. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah
mengakhiri Periode Gelgel. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made
dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak
dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta
kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru
sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya di Semarapura.
Dengan demikian, Dewa Agung Jambe (1710-1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung.
Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I, sedangkan raja Klungkung
yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Pada zaman Klungkung ini
wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan
kecil ini selanjutnya menjadi swapraja (berjumlah
delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten.
c Kerajaan Badung
Kerajaan Badung adalah suatu kerajaan yang berdiri di Pulau
Bali bagian selatan. Pusat pemerintahan
Kerajaan Badung berada di Puri Agung Denpasar sampai akhirnya pasukan Belanda mengalahkan Kerajaan Badung
melalui Perang Puputan Badung pada tahun 1906. Hindia
Belanda merestorasi
kerajaan ini pada tahun 1929, dan menjadikan Badung sebagai wilayah
swapraja pada
tahun 1938. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, wilayah Kerajaan Badung berstatus
sebagai Daerah Tingkat II Badung dan Daerah
Tingkat II Denpasar dalam
pemerintahan Provinsi Bali.
Pada tahun 1343, Majapahit berkuasa di Bali dan berpusat di Samprangan dengan
penguasanya, Sri Kresna Dalem Kepakisan, yang memiliki putra mahkota bergelar
Dalem Pemahyun, yang kemudian menurunkan Sira Arya Tegeh Kori. Menurut cerita
rakyat, Sira Arya Tegeh Kori melakukan perjalanan panjang menuju Pura Ulun Danau
Batur dan memohon
kepada Ida Bhatari Ulun Danu Batur untuk diberikan panugrahan agar
kelak menjadi seorang yang berwibawa dan dihargai oleh rakyatnya. Doa Sira Arya
Tegeh Kori dikabulkan oleh Ida Bhatari Batur, dan meminta Sira Arya Tegeh Kori
agar pergi ke barat daya (Gumi Badeng) tepatnya di Tonjaya, sebuah
wilayah yang ditempati oleh Ki Bendesa bersama para saudaranya Ki Pasek Kabayan,
Ki Ngukuhin, dan Ki Tangkas. Atas prakarsa Ki Bendesa dan saudara-saudaranya,
diputuskan melalui musyawarah bahwa Sira Arya Tegeh Kori diangkat menjadi
penguasa di daerah tersebut
Setelah itu bersama
warganya, Ki Bendesa membangun istana untuk Sira Arya Tegeh Kori yang diberi
nama Puri Benculuk dan menetapkan nama wilayah kekuasaannya menjadi Badung yang
berasal dari kata Badeng, sesuai dengan titah Ida Bhatari Batur
yakni "Tonja Yang Jakang Wana Badeng". Kemudian Sira Arya
Tegeh Kori menghadap kepada penguasa Bali, Sri Kresna Dalem Kepakisan, yang bertahta
di Samprangan dan melaporkan bahwa ia telah diangkat menjadi penguasa Badung
pertama. Pada masa selanjutnya, para penguasa Badung sebagai bawahan dari Kerajaan Gelgel juga membangun Puri Ksatriya dan Puri
Tegal Agung. Masa Pemerintahan para keturunan Tegeh Kori ini diperkirakan
berlangsung pada tahun 1360-1750
Pada akhir abad
ke-18, kekuasaan Puri Ksatriya jatuh kepada Kyayi Ngurah Made, sebagai penerima
tahta dari Kyayi Ngurah Jambe Ksatriya. Karena Puri Ksatriya telah rusak karena
perang perebutan kekuasaan, maka pada masa kekuasaan Kyayi Ngurah Made, dia
memerintahkan untuk membuat puri baru yang terletak di Tetaman
Den-Pasar (den-pasar dalam Bahasa
Bali berarti "utara pasar"), yang
berada di sebelah selatan reruntuhan Puri Ksatriya. Pada tahun 1788 Puri Agung Denpasar secara resmi
digunakan sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Badung dan Kyayi Ngurah Made
sebagai Raja Denpasar I menggunakan gelar “I Gusti Ngurah Made Pemecutan”,
mengingat dia keturunan dari Dinasti Pemecutan (1788-1813)
Daftar nama-nama
raja di Kerajaan Bandung
·
I Gusti
Ngurah Made Pemecutan (1788-1813)
·
I Gusti
Ngurah Jambe Pemecutan (1813–1817)
·
I Gusti
Made Ngurah Pemecutan (1817–1829)
·
I Gusti
Gede Ngurah Pemecutan (1829–1848)
·
I Gusti
Alit Ngurah Pemecutan (1848–1902)
·
I Gusti
Ngurah Made Agung Pemecutan (1902–1906)
·
Cokorda
Alit Ngurah Pemecutan (1929–1965)
·
Cokorda
Ngurah Agung Pemecutan (1965–1998)
·
Cokorda
Ngurah Jambe Pemecutan (2005–Sekarang)
d Kerajaan
Buleleng
Kerajaan Buleleng adalah
suatu kerajaan di Bali utara yang didirikan sekitar
pertengahan abad ke-17 dan jatuh ke tangan Belandapada tahun 1849. Kerajaan ini dibangun oleh I
Gusti Anglurah Panji Sakti dari Wangsa Kepakisan dengan cara menyatukan seluruh wilayah
wilayah Bali Utara yang sebelumnya dikenal dengan nama Den Bukit.
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, Kerajaan Buleleng berstatus sebagai Daerah Tingkat II Buleleng.
5. Prasasti
prasasti peninggalan kerajaan Hindu di Bali
1.
Prasasti
Blanjong
2.
Prasasti
Panglapuan
3.
Prasasti Gunung
Panulisan
4.
Prasasti-prasasti
peninggalan Anak Wungsu
5.
Candi Padas di
Gunung Kawi Pura Agung Besakih
6. ndi Mengening Candi
Wasan.
6. Peninggalan
karya sastra oleh kerajaan Hindu di Bali
Kerajaan Bali, terdapat berbagai macam atau jenis hasil
peninggalan-peninggalan kebudayaan yang bersejarah yang ditemukan para ahli arkeologi. Peninggalan
kebudayaan Kerajaan Bali, antara lain prasasi, candi, karya sastra, dan
kesenian. Peninggalan kebudayaan Kerajaan Bali berupa prasasti, antara
lain Prasasti Blanjong (914 M), Prasasti Panglapuan (804 Saka/882 M), Prasasti
Gunung Panulisan, dan prasasti-prasasti Anak Wungsu. Peninggalan kebudayaan
Kerajaan Bali berupa candi, antara lain Candi Padas di Gunung Kawi, Pura
Agung Besakih, Candi Mengening, dan Candi Wasan.
Di Bali hanya ditemukan sebuah kitab yang memuat cerita
tradisional Bali yang dapat dijadikan sebagai sumber sejarah, yakni kitab Usana Bali. Di
dalam prasasti-prasasti sebelum Raja Anak Wungsu, di sebut-sebut jenis kesenian
yang ada pada masa itu. Pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu dikenal dua
kelompok kesenian yaitu Seni
Kraton dan Seni Rakyat.
Seni Kraton dan Seni rakyat ini hanyalah nama pengelompokannya saja, mengingat
dalam praktiknya masing-masing terbuka untuk dilihat oleh siapa saja.
Komentar
Posting Komentar