Oleh
I Made Nuhari
Anta
Menurut KBBI transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari satu daerah
(pulau) yang berpenduduk padat ke daerah (pulau) lain yang berpenduduk jarang.
Transmigrasi merupakan suatu program yang dibuat oleh pemerintah untuk memindahkan
penduduk dari suatu daerah yang padat penduduk (kota) ke daerah lain (desa) di
dalam wilayah Indonesia. Penduduk yang melakukan transmigarasi disebut
transmigran.
Menurut pemerintah Indonesia dan komunitas pembangunan, tujuan program
ini adalah untuk memindahkan jutaan orang Indonesia dari pulau Jawa, Bali, dan
Madura yang padat ke pulau-pulau luar yang penduduknya sedikit demi menciptakan
kepadatan penduduk yang merata. Transmigrasi akan mengentaskan kemiskinan
dengan memberikan lahan dan kesempatan baru bagi para pendatang. Transmigrasi
juga akan menguntungkan Indonesia dengan meningkatkan pemanfaatan sumber daya
alam di palau-pulau yang kurang padat penduduk. Program ini juga bertujuan untuk
menyatukan seluruh bangsa dengan menciptakan identitas nasional Indonesia yang
unggul yang mengantikan identitas daerah.
Dalam berbagai kasus transmigrasi tidak hanya berdampak pada kemajuan.
Namun, disisi lain dampak transmigrasi juga memberi pengaruh negative. Mulai
dari percepatan penebangan hutan untuk membuka lahan baru sampai pada konflik
social antara masyarakat asli dan masyarakat pendatang. Perseteruann antara
suku ini salah satunya dipicu karena kecemburuan social. Dimana masyarakat asli
merasa hak mereka telah dirampas oleh masyarakat pendatang yang lebih sukses.
Berdasarkan hasil sensus tahun 2010 jumlah total masyarakat transmigran
yang berada di pulau Sumatra mencapai 15,5 juta jiwa. Di pulau Kalimantan, total
keseluruhan transmigran berjumlah 2,6 juta jiwa. Berikut pulau Sulawesi, dan
Papua dengan jumlah kurang dari 2 juta
jiwa dengan total jumlah keseluruhan masyarakat transmigrasi di Indonesia
mencapai 20 juta jiwa. Melihat jumlah masyarakat transmiran di Indonesia
sangatlah tidak mengherankan jika kemudian terjadi pembauran antara budaya
orang asli dengan pendatang dan tidak sedikit yang kemudian berkonflik.
Melihat dampak social yang berlaku terhadap masyarakat transmigran
secara umum di Indonesia, bagamanakah dampak social yang berlaku pada
transmigran Bali ? apakah hal tersebut berlaku sama atau justru sebaliknya ?
Jika melihat dari karakteristik masyarakat Bali, maka seharusnya dampak
social pada masyarakat transmigran Bali mengarah ke ranah positif. Hal ini disebabkan
karena filosofi masyarakat Bali “do
ngaden awak bise, depang anake ngadanin”. Arti dari kalimaat tersebut
adalah “jangan pernah menganggap diri bisa (sombong), biarkan orang lain yang
menilai”. Jika dicermati filosofi ini mengajarkan kepada orang Bali agar selalu
rendah hati. Tidak menonjolkan kemampuan secara berlebihan terhadap orang lain.
Termasuk dalam hal keberhasilan setelah menjadi masyarakat transmigran. Karena
hal ini akan memicu kecemburuan social
dengan masyarakat asli.
Secara
filosofis masyarakat Bali telah memiliki nilai positif dalam mengantisipasi
diri untuk menghindari konflik. Namum, secara theologis masyarakat transmigran
Bali belum membentenggi diri dari pergerusan pengaruh misionaris Kristen yang
masif. Hal ini karena pada masa-masa awal transmigrasi, masyarakat lebih terfokus
untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan jasmani. Masyarakat bekerja keras
untuk meningkatkan penghidupan agar lebih baik dari sebelumnya. Konsekuensinya
adalah kurang diperhatikannya tentang pendidikan khususnya pendidikan agama.
Lemahnya pemahaman tentang pendidikan agama tentunya akan berdampak pada
rentannya kehidupan beragama.
Kenyataan
di masyarakat, sering dijumpai fenomena konversi agama sebagai akibat lemahnya
pendidikan agama. Rentanya kehidupan beragama akan berdampak
pada konversi agama. Tingginya penerimaan terhadap paham-paham baru yang ada di
tempat transmigrasi dapat mempengaruhi paham lama yang sebelumnya telah
dijalani oleh masyarakat trasmigran Bali. Penerimaan terhadap paham-paham baru
ini akan berdampak pada tahap konversi yang lebih lanjut.
Berdasarkan
hasil penelitian Anta (2015) tentang faktor penyebab dan proses terjadinya
konversi agama dari hindu ke kristen protestan di
desa balinggi jati kecamatan balinggi kabupaten parigi moutong di
peroleh kesimpulan bahwa yang menyebabkan terjadinya konversi agama pada
masyarakat transmigran Bali adalah karena faktor pendidikan, faktor ketidakpuasan sistem adat dan pemimpin
keagamaan, faktor sosiologis, dan faktor psikologis.
Faktor pendidikan terdiri dari: 1) Kurangnya
tenaga pendidik agama Hindu 2) Lemahnya pemahaman tentang agama Hindu. Faktor
ketidakpuasan atas sistem adat dan pemimpin keagamaan agama terdiri dari: 1)
Rumitnya pembuatan sarana upacara 2) Ketidakpuasan atas penerapan catur kasta
3) Ketidakpuasan terhadap pemimpin keagamaan. Faktor sosiologis terdiri dari 1)
Pengaruh hubungan antar pribadi 2) Pengaruh anjuran atau propaganda dari orang
terdekat 3) Pengaruh kebiasaan yang rutin 4) Pengaruh kekuasaan pemimpin.
Faktor psikologis terdiri dari: 1) Faktor keluarga 2) Faktor lingkungan tempat
tinggal 3) Faktor perubahan status 4) Faktor kemiskinan.
Dari berbagai faktor tersebut tergambar jelas
bagaimana kompleksnya permasalahan masyarakat transmigran Bali di daerah
transmigrasi. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari lembaga keagamaan
Hindu untuk segera mengatasi permasalah tersebut. Karena, tidak menuntut
kemungkinan hal ini juga berlaku di berbagai tempat dimana masyarakat
transmigran Bali Hindu berada. ***
Komentar
Posting Komentar