BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan
dalam arti mikro (sempit) merupakan proses interaksi antara pendidik dan
peserta didik baik di keluarga, sekolah maupun di masyarakat.Namun pendidikan
dalam arti sempit sering diartikan sekolah (pengajaran yang di selenggarakan
disekolah sebagai lembaga pendidikan formal, segala pengaruh yang di upayakan
sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai
kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan
tugas-tugas sosial mereka).
Pendidikan
dilaksanakan di sekolah atau di dalam lingkungan khusus yang diciptakan secara
sengaja untuk pendidikan dalam konteks program pendidikan sekolah. Dalam
pengertian sempit, pendidikan hanyalah bagi mereka yang menjadi peserta didik
(siswa/mahasiswa) dari suatu lembaga pendidikan formal (sekolah/perguruan
tinggi). Pendidikan dilaksanakan dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar yang
terprogram dan bersifat formal atau disengaja untuk pendidikan dan terkontrol.
Dalam pengertian sempit, pendidik bagi para siswa terbatas pada pendidik
profesional atau guru.
Sedangkan
pendidikan dalam arti makro (luas) adalah proses interaksi antara manusia
sebagai individu/ pribadi dan lingkungan alam semesta, lingkungan sosial,
masyarakat, sosial-ekonomi, sosial-politik dan sosial-budaya. Pendidikan dalam
arti luas juga dapat diartikan hidup (segala pengalaman belajar yang
berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Segala situasi hidup
yang mempengaruhi pertumbuhan individu, suatu proses pertumbuhan dan
perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan
lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir).
Jadi pendidikan
dalam arti luas, hidup adalah pendidikan, dan pendidikan adalah hidup (life is
education, and education is life). Maksudnya bahwa pendidikan adalah segala
pengalaman hidup (belajar) dalam berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang
hayat dan berpengaruh positif bagi pertumbuhan atau perkembangan individu.
Dalam kontek sekolah dimana
pendidikan dilaksanakan dalam sebuah lembaga yang disebut sekolah maka
transformasi pendidikan terjadi dalam sebuah proses pembelajaran melalui
kegiatan belajar, Belajar Merupakan Tindakan dan Perilaku siswa yang
kompleks, sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri.
Siswa adalah penentu terjadi atau tidak terjadinya proses belajar. Proses
belajar terjadi karena siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar.
Lingkungan yang dipelajari oleh siswa adalah keadaan alam, benda-benda, hewan,
tumbuh-tumbuhan, manusia atau hal-hal yang akan dijadikan bahan belajar. Belajar adalah proses mencari, memahami, menganalisis suatu keadaan
sehingga terjadi perubahan perilaku, dan perubahan tersebut tidak dapat
dikatakan sebagai hasil belajar jika disebabkan oleh karena pertumbuhan atau
keadaan sementara. (Syaifuddin Iskandar : 2008 : 1).
Sedangkan pembelajaran/ instruksional adalah usaha
mengorganisasikan lingkungan belajar sehingga memungkinkan siswa melakukan
kegiatan belajar, untuk mencapai
tujuan pembelajaran dengan menggunakan berbagai media dan sumber belajar
tertentu yang akan mendukung pembelajaran itu nantinya. Istilah
“pembelajaran” sama dengan “instruction atau “pengajaran”. Pengajaran mempunyai
arti cara mengajar atau mengajarkan. (Purwadinata, 1967:22). Dengan demikian
pengajaran diartikan sama dengan perbuatan belajar (oleh siswa) dan Mengajar
(oleh guru). Kegiatan belajar mengajar adalah satu kesatuan dari dua kegiatan
yang searah.
Pembelajaran
yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang
berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut)
ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an menjadi “pembelajaran”, yang
berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik
mau belajar. Robert F. Mager (dalam Uno, 35:2006) Tujuan pembelajaran sebagai
perilaku hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa (peserta didik)
pada kondisi dan tingkat kopentensi tertentu. Sehingga yang menjadi point
penting dalam pembelajaran adalah terjadinya perubahan dalam diri peserta didik
tentunya ditentukan dengan tingkatan yang ingin dicapai oleh pengajar
(pendidik) tersebut.
Pembelajaran
adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan
pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan
kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta
didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta
didik agar dapat belajar dengan baik.
Ada beberapa
teori yang terkait dengan bagaimana proses transformasi pendidikan dalam
kegiatan pembelajaran salah satunya adalah teori kontrukstifistik dimana dalam
teori ini menjabarkan bagaimana proses pendidikan tersebut berlangsung dan
berjalan. Untuk hal tersebut perlu kiranya ada sebuah penjabaran tentang teori
Kontrukstifistik.
1.2.
Rumusan Masalah
Masalah sendiri didefinisikan adalah suatu keadaan
yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan
situasi yang menimbulkan tanda tanya dan dengan sendirinya memerlukan upaya
untuk mencari suatu jawaban Guba (dalam moleong 2011: 93). Mengacu dari dua
pendapat tersebut rumusan masalah Dalam penelitian ini yang menjadi rumusan
masalah adalah :
1. Apakah
yang dimaksud dengan Teori Kontrukstifistik ?
2. Bagaimana
Penggunaan Teori Tersebut dalam Pendidikan?
1.3.
Tujuan Penulisan
Setiap
kegiatan yang dilakukan tentunya memilki tujuan yang ingin dicapai adapun
tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah :
1. Untuk
mengetahui pengertian dari teori Kontrukstifistik.
2. Untuk
mengetahui Penggunaan dari teori Kontruktifistik.
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 PENGERTIAN TEORI KONTRUKTIVISME
Konstruktivisme
berasal dari kata konstruktiv dan isme. Konstruktiv berarti
bersifat membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme dalam kamus Bahasa
Inonesia berarti paham atau aliran. Konstruktivisme merupakan aliran filsafat
pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi
kita sendiri.
Para
konstruktivis menjelaskan bahwa satu-satunya alat/sarana yang tersedia bagi
seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah indranya. Seseorang berinteraksi
dengan objek dan lingkungan dengan melihat, mendengar, menjamah, mencium, dan
merasakannya. Dari sentuhan indrawi itu seseorang membangun gambaran dunianya.
Misalnya, dengan mengamati air, bermain dengan air, mengecap air, dan menimbang
air, seseorang membangun gambaran pengetahuan tentang air. Para konstruktivis
percaya bahwa pengetahuan itu ada dalam diri seseorang yang sedang mengetahui.
Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seorang (pendidik) ke
kepala orang lain (peserta didik). Peserta didik sendirilah yang harus
mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap
pengalaman-pengalaman mereka (Lorsbach & Tobin, dalam Suparno, 1997: 19).
Menurut
Von Glaserfekd (Suparno, 1997: 19), pengetahuan itu dibentuk oleh struktur
konsepsi seseorang sewaktu dia berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan
dapat berarti dua macam. Pertama, bila kita berbicara tentang diri kita
sendiri, lingkungan menunjuk pada keseluruhan objek dan semua relasinya yang
kita abstraksikan dari pengalaman. Kedua, bila kita memfokuskan diri pada suatu hal tertentu, lingkungan
menunjuk pada sekeliling hal itu yang telah kita sosialisasikan. Dalam hal ini,
baik hal itu maupun sekelilingnya merupakan lingkup pengalaman kita sendiri,
bukan dunia objektif yang lepas dari pengamat.
Von
Glasersfeld (Suparno, 1997: 19) menjelaskan struktur konsepsi tersebut
membentuk pengetahuan bila struktur itu dapat digunakan dalam menghadapi
pengalaman-pengalaman mereka ataupun dalam menghadapi persoalan-persoalan
mereka yang berkaitan dengan konsepsi tersebut. Bila konsep ataupun abstraksi
seseorang terhadap sesuatu dapat menjelaskan macam-macam persoalan yang
berkaitan, maka konsep itu membentuk pengetahuan seseorang akan hal itu.
Misalnya konsepsi seseorang akan ciri-ciri seorang wanita dibandingkan dengan
seorang lelaki akan menjadi suatu pengetahuan tentang “ciri-ciri wanita”, bila
konsepsi itu dapat digunakan dalam menganalisis wanita-wanita lain yang
dijumpainya dan dapat membedakan antara wanita dan lelaki yang dijumpainya.
Salah
satu tujuan pendidikan nasional adalah untuk membantu generasi muda menjadi
manusia yang utuh, yang pandai dalam bidang pengetahuan, bermoral, berbudi
luhur, peka terhadap orang lain, beriman, dan lain-lain; pendidikan juga
mempunyai peran untuk membantu orang muda masuk ke dalam masyarakat dan ikut
terlibat di dalam masyarakat secara bertanggungjawab. Secara konkret dalam
situasi Indonesia dewasa ini, pendidikan nasional juga mempunyai tujuan untuk
membantu orang muda menjadi warga negara yang baik dan bertanggungjawab.
Artinya, pendidikan nasional dapat ikut terlibat dalam meningkatkan hidup
bernegara dan bermasyarakat. Tentu yang diharapkan bahwa mereka dapat terlibat
sebagai warga yang aktif, yang ikut menegakkan demokratisasi negara ini
(Suparni dkk, 2002: 14).
Teori
konstruktivisme merupakan suatu proses pembelajaran yang mengondisikan peserta
didik untuk melakukan proses aktif membangun konsep baru, pengertian baru, dan
pengetahuan baru berdasarkan data. Oleh karena itu proses pembelajaran harus
dirancang dan dikelola sedemikian rupa sehingga mampu mendorong peserta didik
untuk mengorganisasi pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna.
Teori ini mencerminkan peserta didik memiliki kebebasan berpikir yang bersifat
eklektik, artinya peserta didik dapat memanfaatkan teknik belajar apapun asal
tujuan belajar dapat tercapai.
Maka
proses pendidikan juga perlu membentuk peserta didik mengenal masyarakatnya,
peka terhadap situasi masyarakatnya, aktif ikut berpikir dan bertanggungjawab
terhadap masyarakatnya. Dalam proses masyarakat yang demokratis, mereka harus
ikut berpikir kritis, menyumbang kepada masyarakat, dan diberi peran oleh
masyarakat (Suparni dkk, 2002: 15).
Bagian
yang penting dalam pendidikan formal di sekolah adalah membantu peserta didik
untuk mengetahui sesuatu, terutama pengetahuan. Secara sederhana, bagaimana
membantu peserta didik untuk menguasai bahan pelajaran yang diberikan oleh
pendidik. Tugas pendidik adalah mentransfer pengetahuan itu ke dalam otak
peserta didik, sehingga peserta didik menjadi tahu. Maka, peserta didik tinggal
membuka otaknya dan menerima pengetahuan itu, atau seringkali diungkapkan bahwa
peserta didik itu seperti tabula rasa, kertas putih kosong. Sedangkan tugas pendidik
adalah memberi tulisan-tulisan pada kertas kosong tersebut.
Menurut
filsafat konstruktivisme (dalam Suparni dkk, 2002: 16) yang berbeda dengan
filsafat klasik, pengetahuan itu adalah bentukan (konstruksi) peserta didik
sendiri yang sedang belajar. Pengetahuan peserta didik akan anjing adalah
bentukan peserta didik sendiri yang terjadi karena peserta didik megolah,
mencerna, dan akhirnya merumuskan dalam otaknya pengertian akan anjing.
Pengetahuan itu kebanyakan dibentuk lewat pengalaman indrawi, lewat melihat,
menjamah, membau, mendengar, dan akhirnya merumuskannya dalam pikiran. Dalam
pengertian konstruktivisme, pengetahuan itu merupakan proses menjadi, yang
pelan-pelan menjadi lebih lengkap dan benar. Sebagai contoh, pengetahuan
peserta didik tentang kucing terus berkembang dari pengertian yang sederhana,
tidak lengkap, dan semakin peserta didik dewasa serta mendalami banyak hal
tentang kucing, maka pengetahuannya tentang kucing akan bertambah lengkap.
Menurut
paham konstruktivisme, pengetahuan diperoleh melalui proses aktif individu
mengkonstruksi arti dari suatu teks, pengalaman fisik, dialog, dan lain-lain
melalui asimilasi pengalaman baru dengan pengertian yang telah dimiliki
seseorang. Tujuan pendidikannya menghasilkan individu yang memiliki kemampuan
berpikir untuk menyelesaikan persoalan hidupnya. Tujuan filsafat pendidikan
memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang
ideal. Teori pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan
prinsip-rinsip pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik
pendidikan atau proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa
implementasi kurikulum dan interaksi antara pendidik dengan peserta didik guna
mencapai tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori
pendidikan. Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan
tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat
dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan
dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik. Seorang pendidik perlu
menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni
mengajar materi subyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep atau
miskonsepsi pada diri peserta didik.
Suparno
(1997:16) menyatakan bahwa peran pendidik dalam aliran konstruktivisme ini
adalah sebagai fasilitator dan mediator yang memiliki tugas memotivasi dan
membantu peserta didik untuk mau belajar sendiri dan merumuskan pengetahuannya.
Selain itu pendidik juga berkewajiban untuk mengevaluasi gagasan-gagasan
peserta didik itu, sesuaikah dengan tujuan pendidikan atau tidak. Fungsi
sebagai mediator dan fasilitator ini dapat dijabarkan dalam beberapa tugas
antara lain sebagai berikut.
1. Menyediakan
pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik ikut bertanggung jawab dalam
membuat desain, proses, dan penelitian
2. Pendidik
menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingin-tahuan
peserta didik, membantu mereka untuk mengekspresikan gagasan mereka dan
mengkomunikasikan ide ilmiahnya.
3. Memonitor,
mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran peserta didik itu jalan atau
tidak. Pendidik menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan peserta didik
itu berlaku untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan. Pendidik membantu
dalam mengevaluasi hipotesa dan kesimpulan peserta didik.
4. Paham
konstruktivisme menuntut pendidik umtuk menguasai dan mengenai pengetahuan dari
bahan yang mau diajarkan. Pengetahuan yang luas dan mendalam akan memungkinkan
seorang pendidik menerima pandangan dan gagasan peserta didik yang berbeda dan
juga memungkinkan untuk menunjukkan apakah gagasan peserta didik itu jalan atau
tidak.
Para peserta didik
menciptakan atau membentuk pengetahuan mereka sendiri melalui tingkatan atau
interaksi dengan dunia. Peserta didik tidak lagi diposisikan bagaikan bejana
kosong yang siap diisi. Peserta didik diberikan kebebasan untuk mencari arti
sendiri dari apa yang mereka pelajari. Ini merupakan proses menyesuaikan konsep
dan ide-ide baru dengan kerangka berpikir yang telah ada dalam pikiran mereka
dan peserta didik bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Peserta didik
membawa pengertian yang lama dalam situasi belajar yang baru. Peserta didik
sendiri yang membuat penalaran atas apa yang dipelajarinya dengan cara mencari
makna, membandingkannya dengan apa yang telah ia ketahui dengan apa yang ia
perlukan dalam pengalaman yang baru
Menurut kaum
konstruktivis, belajar merupakan proses aktif pelajar mengkonstruksikan arti
sebuah teks, dialog, pengalaman fisis, dan lain-lain. Belajar juga merupakan
proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari
dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannya
dikembangkan. Proses tersebut antara lain bercirikan sebagai berikut
1. Belajar berarti
membentuk makna. Makna diciptakan oleh peserta didik dari apa yang mereka
lihat, dengar, rasakan dan alami. Konstruksi arti itu dipengaruhi oleh
pengertian yang telah ia punyai.
2. Konstruksi arti
adalah proses yang terus menerus. Setiap kali berhadapan dengan fenomena atau
persoalan yang baru, diadakan rekonstruksi, baik secara kuat maupun lemah.
3. Belajar bukanlah
kegiatan mengumpulan fakta, melainkan lebih suatu pengembangan pemikiran dengan
membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan, melainkan
merupakan perkembangan itu sendiri (Fosnot, 1996), suatu perkembangan yang
menuntut penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang.
4. Proses belajar
yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam keraguan yang
merangsang pemikiran lebih lanjut situasi ketidakseimbangan (disequilibrium) adalah situasi yang baik untuk memacu belajar.
5. Hasil belajar
dipengaruhi oleh pengalaman pelajar dengan dunia fisik dan lingkungan.
6. Hasil belajar
seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui pelajar konsep-konsep,
tujuan, dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajari
(Paul Suparno, 2001:61).
Kaum
konstruktivis berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk dalam diri individu atas
dasar struktur kognitif yang telah dimilikinya, hal ini berimplikasi pada
proses belajar yang menekankan aktivitas personal peserta didik. Agar proses
belajar dapat berjalan lancar maka pendidik dituntut untuk mengenali secara
cermat tingkat perkembangan kognitif peserta didik. Atas dasar pemahamannya
pendidik merancang pengalaman belajar yang dapat merangsang struktur kognitif
anak untuk berpikir, berinteraksi membentuk pengetahuan yang baru. Pengalaman
yang disajikan tidak boleh terlalu jauh dari pengetahuan peserta didik tetapi
juga jangan sama seperti yang telah dimilikinya. Pengalaman sedapat mungkin
berada di ambang batas antara pengetahuan yang sudah diketahui dan pengetahuan
yang belum diketahui sebagai zone of proximal development of knowledge.
11. Teori
Belajar Konstruktivisme Jean Piaget
Piaget
yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa
penekanan teori kontruktivisme pada proses untuk menemukan teori atau
pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan. Peran guru dalam pembelajaran
menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator atau moderator.
Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang
dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu
pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan
akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya.
Proses mengkonstruksi,
sebagaimana dijelaskan Jean Piaget adalah sebagai berikut:
a a. Skemata
Sekumpulan konsep yang
digunakan ketika berinteraksi dengan lingkungan disebut dengan
skemata.
Sejak kecil anak sudah
memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan skema (schema). Skema
terbentuk karena pengalaman. Misalnya, anak senang bermain dengan kucing dan
kelinci yang sama-sama berbulu putih. Berkat keseringannya, ia dapat menangkap
perbedaan keduanya, yaitu bahwa kucing berkaki empat dan kelinci berkaki dua.
Pada akhirnya, berkat pengalaman itulah dalam struktur kognitif anak terbentuk
skema tentang binatang berkaki empat dan binatang berkaki dua. Semakin dewasa
anak, maka semakin sempunalah skema yang dimilikinya. Proses penyempurnaan
sekema dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi.
b b. Asimilasi
Asimilasi adalah
proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman
baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi
dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan
kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini
berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata
melainkan perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu
dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru
pengertian orang itu berkembang.
c. Akomodasi
Dalam menghadapi rangsangan
atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang
baru dengan skemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bisa jadi
sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian
orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi tejadi untuk membentuk skema baru
yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada
sehingga cocok dengan rangsangan itu.
d d. Keseimbangan (ekuilibrasi)
Ekuilibrasi adalah
keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sedangkan diskuilibrasi adalah
keadaan dimana tidak seimbangnya antara proses asimilasi dan akomodasi,
ekuilibrasi dapat membuat seseorang menyatukan pengalaman luar dengan struktur
dalamnya.
2. Teori
Belajar Konstruktivisme Vygotsky
Ratumanan
(2004:45) mengemukakan bahwa karya Vygotsky didasarkan pada dua ide utama.
Pertama, perkembangan intelektual dapat dipahami hanya bila ditinjau dari
konteks historis dan budaya pengalaman anak. Kedua, perkembangan bergantung
pada sistem-sistem isyarat mengacu pada simbol-simbol yang diciptakan oleh
budaya untuk membantu orang berfikir, berkomunikasi dan memecahkan masalah,
dengan demikian perkembangan kognitif anak mensyaratkan sistem komunikasi
budaya dan belajar menggunakan sistem-sistem ini untuk menyesuaikan
proses-proses berfikir diri sendiri.
Menurut
Slavin (Ratumanan, 2004:49) ada dua implikasi utama teori Vygotsky
dalam pendidikan.Pertama, dikehendakinya setting kelas
berbentuk pembelajaran kooperatif antar kelompok-kelompok
siswa dengan kemampuan yang berbeda, sehingga siswa dapat berinteraksi dalam
mengerjakan tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi-strategi
pemecahan masalah yang efektif di dalam daerah pengembangan terdekat/proksimal
masing-masing. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran
menekankan perancahan (scaffolding). Dengan scaffolding,
semakin lama siswa semakin dapat mengambil tanggungjawab untuk pembelajarannya
sendiri.
a1. Pengelolaan
pembelajaran
Interaksi
sosial individu dengan lingkungannya sengat mempengaruhi perkembanganbelajar
seseorang, sehingga perkemkembangan sifat-sifat dan jenis manusia akan
dipengaruhi oleh kedua unsur tersebut. Menurut Vygotsky dalam Slavin (2000),
peserta didik melaksanakan aktivitas belajar melalui interaksi dengan orang
dewasa dan teman sejawat yang mempunyai kemampuan lebih. Interaksi sosial ini
memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual peserta
didik.
b2. Pemberian
bimbingan
Menurut
Vygotsky, tujuan belajar akan tercapai dengan belajar menyelesaikan tugas-tugas
yang belum dipelajari tetapi tugas-tugas tersebut masih berada dalam daerah
perkembangan terdekat mereka (Wersch,1985), yaitu tugas-tugas yang terletak di
atas peringkat perkembangannya. Menurut Vygotsky, pada saat peserta didik
melaksanakan aktivitas di dalam daerah perkembangan terdekat mereka, tugas yang
tidak dapat diselesaikan sendiri akan dapat mereka selesaikan dengan bimbingan
atau bantuan orang lain.
Konsep Dasar Penggunaan
Teori Konstruktivisme
Berikut
ini merupakan beberapa konsep kunci dari teori konstruktivisme antara lain:
1.
Siswa Sebagai Individu yang Unik
Teori konstruktivisme
berpandangan bahwa pembelajar merupakan individu yang unik dengan kebutuhan dan
latar belakang yang unik pula. Dalam teori ini tidak hanya memperkenalkan
keunikan dan kompleksitas pembelajar tetapi juga secara nyata mendorong,
memotivasi dan memberi penghargaan kepada siswa sebagai integral dari proses
pembelajaran.
2. Self
Regulated Leaner (Pembelajar yang dapat mengelola
diri sendiri )
Siswa dikembangkan menjadi
seorang yang memiliki pengetahuan tentang strategi belajar yang efektif, yang
sesuai dengan gaya belajarnya dan tahu bagaimana serta kapan menggunakan
pengetahuan itu dalam situasi pembelajaran yang berbeda. Self Regulated Leaner
termotivasi untuk belajar oleh dirinya sendiri, bukan dari nilai yang
diperolehnya sebagai hasil belajar atau karena motivasi eksternal yang lain,
misalnya dari guru atau orang tuanya.
3.
Tanggung jawab Pembelajaran
Dalam konstruktivisme ini
berpandangan bahwa tanggung jawab belajar bertumpu kepada siswa. Teori ini
menekankan bahwa siswa harus aktif dalam proses pembelajaran, dan berbeda
pendapat dengan pandangan pendidikan sebelumnya yang menyatakan tanggung jawab
pembelajaran lebih kepada guru, sedangkan siswa berperan secara pasif dan
reseptif. Disini para pembelajar mencari makna dan akan mencoba mencari
keteraturan dari berbagai kejadian yang ada di dunia, bahkan seandainya
informasi yang tersedia tidak lengkap.
4.
Motivasi Pembelajaran
Motivasi belajar secara
kuat bergantung kepada kepercayaan siswa terhadap potensi belajarnya sendiri.
Perasaan kompeten dan kepercayaan terhadap potensi untuk memecahkan masalah
baru, diturunkan dari pengalaman langsung di dalam menguasai masalah pada masa
lalu. Maka dari itu belajar dari pengalaman akan memperoleh kepercayaan diri,
serta motivasi untuk menyelesaikan masalah yang lebih kompleks lagi.
5.
Peran Guru Sebagai Fasilitator
Jika seorang guru
menyampaikan kuliah/ceramah yang menyangkut pokok bahasan, maka fasilitator
membantu siswa untuk memperoleh pemahamannya sendiri terhadap pokok
bahasan/konten kurikulum.
6.
Kolaborasi Antar pembelajar
Pembelajar dengan
keterampilan dan latar belakang yang berbeda diakomodasi untuk melakukan
kolaborasi dalam penyelesaian tugas dan diskusi-diskusi agar mencapai pemahaman
yang sama tentang kebenaran dalam suatu wilayah bahasan yang spesifik.
7.
Proses Top-Down (Proses
dari Atas ke Bawah)
Dalam
proses ini siswa diperkenalkan dulu dengan masalah-masalah yang kompleks untuk
dipecahkan dengan bantuan guru menemukan keterampilan-keterampilan dasar yang
diperlukan untuk memecahkan masalah seperti itu. Pada prinsipnya pembelajaran
dimulai dengan pemberian dan pelatihan keterampilan-keterampilan dasar dan
secara bertahap diberikan keterampilan-keterampilan yang lebih kompleks
Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivisme
Ada sejumlah ciri-ciri
proses pembelajaran yang sangat ditekankan oleh teori konstruktivisme, yaitu:
1. Menekankan
pada proses belajar, bukan proses mengajar
2. Mendorong
terjadinya kemandirian dan inisiatif belajara pada siswa
3. Memandang siswa sebagai pencipta kemauan
dan tujuan yang ingin dicapai
4. Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu
proses, bukan menekan pada hasil
5. Mendorong
siswa untuk melakukan penyelidikan
6. Menghargai
peranan pengalaman kritis dalam belajar
7. Mendorong
berkembangnya rasa ingin tahu secara alami pada siswa
8. Penilaian
belajar lebih menekankan pada kinerja dan pemahaman siswa
9. Berdasarkan
proses belajarnya pada prinsip-prinsip toeri kognitif
10. Banyak menggunakan terminologi kognitif untuk
menjelaskan proses pembelajaran, seperti prediksi, infernsi, kreasi,
dan analisis
11. Menekankan
bagaimana siswa belajar
12. Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam
dialog atau diskusi dengan siswa lain dan guru
13.
Sangat mendukung terjadinya belajar kooperatif
14. Melibatkan
siswa dalam situasi dunia nyata
15.
Menekankan pentingnya konteks siswa dalam belajar
16.
Memperhatikan keyakinan dan sikap siswa dalam belajar
17. Memberikan kesempatan kepada siswa
untuk membangun pengetahuan dan pemahaman baru yang didasarkan pada pengalaman
nyata
Model Pembelajaran Konstruktivisme
Salah
satu contoh yang disarankan adalah memulai dari apa yang menurut siswa hal yang
biasa, padahal sesungguhnya tidak demikian. Perlu diupayakan terjadinya situasi
konfik pada struktur kognitif siswa. Contohnya mengenai cecak atau cacing
tanah. Mereka menduga cecak atau cacing tanah hanya satu macam, padahal keduanya
terdiri lebih dari satu genus (bukan hanya berbeda species). Berikut ini akan
dicontohkan model untuk pembelajaran mengenai cacing tanah melalui ketiga tahap
dalam pembelajaran konstruktivisme (ekplorasi, klarifikasi, dan aplikasi)
Fase Eksplorasi
· Diperlihatkan tanah
berisi cacing dan diajukan pertanyaan: “Apa yang
kau ketahui tentang cacing tanah?”.
· Semua jawaban siswa
ditampung (ditulis dipapan tulis jika perlu).
· Siswa diberi kesempatan
untuk memeriksa keadaan yang sesungguhnya, dan diberi kesempatan untuk
merumuskan hal-hal yang tidak sesuai dengan jawaban mereka semula.
Fase Klarifikasi
· Guru memperkealkan macam-macam cacing dan spesifikasinya.
. Siswa merumuskan kembali
pengetahuan mereka tentang cacing tanah.
· Guru memperkealkan macam-macam cacing dan spesifikasinya.
· Guru memberikan masalah
berupa pemilihan cacing yang cocok untuk dikembangbiakkan.
· Siswa mendiskusikannya
secara berkelompok dan merencanakan penyelidikan.
· Secara berkelompok siswa
melakukan penyelidikan untuk menguji rencananya.
· Siswa mencari tambahan
rujukan tentang manfaat cacing tanah dulu dan sekarang.
Fase Aplikasi
· Secara berkelompok siswa
melaporkan hasilnya, dilanjutkan dengan penyajian oleh wakil kelompok dalam
diskusi kelas.
· Secara bersama-sama siswa
merumuskan rekomendasi untuk para pemula yang ingin ber-“ternak cacing” tanah.
· Secara perorangan siswa
membuat tulisan tentang perkehidupan jenis cacing tanah tertentu sesuai hasil
pengamatannya.
Silahkan Shere kalau setuju yaa..
Terima kasih 😁
By: I Made Nuhari Anta →→→→→→→
Komentar
Posting Komentar